Tuesday, October 1, 2019

Tingkat Hunian Hotel Turun, Mayoritas di Jakarta

Tubuh Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang di Indonesia pada Agustus 2019 sampai rata rata 54,14% atau turun 5,87 point dibanding TPK Agustus 2018. Begitupun bila dibandingkan dengan TPK Juli 2019 yang tertera 56,73%, TPK Agustus 2019 turun sebesar 2,59 point.

Mencuplik data BPS, Selasa (1/10/2019), TPK paling tinggi tertera di Propinsi Sulawesi Utara sebesar 67,98%, diikuti Propinsi Bali sebesar 67,1%, serta Propinsi Bengkulu yakni sebesar 62,69%. Sedang TPK paling rendah tertera di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung yang sebesar 34,13%.



Penurunan TPK hotel klasifikasi bintang pada Agustus 2019 dibandingkan Agustus 2018 tertera di sejumlah besar propinsi. Propinsi dengan penurunan paling tinggi berlangsung di Propinsi DKI Jakarta, yakni sebesar 16,01 point, diikuti Propinsi Kalimantan Selatan 14,08 point, serta Propinsi Kepulauan Bangka Belitung 11,14 point.Sedang penurunan paling rendah tertera di Propinsi Papua, yakni sebesar 0,10 point.

Baca Juga : Analisis SWOT

Mengenai kenaikan TPK hotel klasifikasi bintang berlangsung di sembilan propinsi, dengan kenaikan terbesar berlangsung di Propinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 23,94 point, serta kenaikan paling kecil berlangsung di Propinsi Sulawesi Tenggara sebesar 0,22 point.

Bila dibanding dengan TPK Juli 2019, berlangsung penurunan di sejumlah besar propinsi, dengan penurunan paling tinggi tertera di Propinsi DI Yogyakarta, yakni sebesar 8,86 point, diikuti Propinsi Aceh 6,78 point, serta Propinsi Kalimantan Selatan 6,32 point. Sedang penurunan paling rendah tertera di Propinsi Kalimantan Utara, yakni sebesar 0,10 point.

Jika disaksikan menurut klasifikasi hotel, TPK paling tinggi pada Agustus 2019 tertera pada hotel bintang 4 yang sampai 58,88%. Sedang TPK paling rendah tertera pada hotel bintang 1 yang cuma sampai 37,03%.

Penurunan TPK hotel berbanding lurus dengan rata rata lama bermalam tamu asing serta Indonesia pada hotel klasifikasi bintang di Indonesia. Rata-rata lama bermalam tamu asing pada Agustus 2019 sampai 1,84 hari atau turun 0,1 point bila dibandingkan rata-rata lama bermalam pada Agustus 2018.

Sesaat, bila dibanding dengan Juli 2019, rata-rata lama bermalam pada Agustus 2019 naik sebesar 0,04 point. Pada umumnya, rata rata lama bermalam tamu asing Agustus 2019 tambah tinggi dibanding dengan rata rata lama bermalam tamu Indonesia, yakni semasing 2,71 hari serta 1,68 hari.

Baca Juga : Pengertian Analisis SWOT

Bila dirinci menurut propinsi, rata-rata lama bermalam tamu yang terlama pada Agustus 2019 tertera di Propinsi Aceh, yakni 2,89 hari, diikuti Propinsi Bali 2,83 hari, serta Propinsi Papua Barat sebesar 2,61 hari, sedang rata-rata lama bermalam tamu yang terpendek berlangsung di Propinsi Banten sebesar 1,15 hari.

Untuk tamu asing, rata-rata lama bermalam paling lama tertera di Propinsi Sulawesi Barat, yakni sebesar 6,88 hari, sedang terpendek berlangsung di Propinsi Banten, yakni 1,13 hari. Sesaat rata rata lama bermalam terlama untuk tamu Indonesia tertera di Propinsi Aceh sebesar 2,92 hari, sedang terpendek berlangsung di Propinsi Banten serta Kalimantan Utara sebesar 1,16 hari.

Tubuh Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi sebesar 0,27% pada September 2019. Harga pangan serta bahan inti yang turun seperti daging ayam serta cabai memberi berlangsungnya deflasi.

Adakah hubungan dengan daya beli warga?

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan deflasi September 2019 tidak tunjukkan terdapatnya daya beli pada warga. Ia katakan, ini diperlihatkan oleh inflasi pokok yang masih tinggi di angka 0,29% pada September atau 3,32% dengan year on year (yoy).

Pada September, inflasi pokok ada di 3,32% (yoy), tambah tinggi daripada bulan awalnya yakni 3,3%. Inflasi pokok terus ada di rata-rata 3% semenjak November tahun kemarin.

"Dengan angka inflasi ini saya akan mengaitkan tidak ada penurunan daya beli," tuturnya waktu didapati di kantornya, Jakarta, Selasa (1/10/2019).

Inflasi sendiri tunjukkan trend kenaikan harga beberapa barang di warga. Kenaikan harga dapat tunjukkan terdapatnya penambahan pekerjaan ekonomi, dengan catatan mengonsumsi masih tumbuh tinggi sebab berarti customer ingin membayar pada harga tambah tinggi.

Baca Juga : Analisis SWOT Adalah

Di lain perihal, deflasi tunjukkan turunnya harga-harga yang bisa saja dikarenakan berkurangnya kegiatan ekonomi di warga. Suhariyanto sendiri pastikan deflasi yang berlangsung kesempatan ini tidak tunjukkan terdapatnya penurunan daya beli di warga.

Akan tetapi, inflasi selalu dijaga supaya masih rendah serta konstan. Inflasi tahunan Indonesia sekarang masih terbangun di rata-rata 3%.

"Penyediaan beras Bulog cukup, jadi saya meyakini harga beras sampai Desember akan terbangun. Sampai akhir tahun, saya tidak lihat komoditas tersendiri akan naik," kata Suhariyanto.

"Makin kecil inflasi makin bagus. Kenaikan penghasilan sesaat harga beberapa barang terbangun, daya beli bertambah, mengonsumsi rumah tangga bagus," imbuhnya.

No comments:

Post a Comment