Saturday, August 31, 2019

Wanita Ini Sukses Jualan Tas Rotan

Nurma Laila (26) adalah wanita asal Kabupaten Lombok Tengah, Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang ikut terdampak gempa Lombok tahun kemarin. Nurma serta suaminya, Awan (29) yang profesinya jadi pemandu wisata (tur guide) di Lombok harus menelan pil pahit sebab pelancong menyusut mencolok sejak gempa.

"Usaha ini diawali seusainya gempa di Lombok tahun kemarin. Saya mulai usaha tas rotan ini bulan Juli. Telah satu tahun lebih. Waktu itu suami saya kan kerja jadi guide, jadi semenjak gempa itu tamu sepi sekali, hampir tidak ada tamu, jadi kami tidak ada pendapatan," papar Nurma saat dihubungi detikFinance awal minggu ini.



Walau sebenarnya, Nurma serta Awan harus menghidupi anak mereka yang baru berumur 1 tahun saat itu (sekarang umur si kecil 2 tahun). Nurma sendiri tinggal di kampung Janapria yang disebut tempat beberapa perajin rotan. Oleh karenanya, dia berinisiatif membuat tas rotan lalu memasarkannya ke beberapa tempat.

Baca Juga : Kelompok Sosial

"Jadi kami coba-cobalah membuat tas rotan. Sebab di kampung saya kan perajin semua, banyak yang buat kerajinan dari rotan. Jadi saya coba-cobalah buat tas. Pemasaran awalannya di seputar sini dahulu. Terus baru online, terus diteruskan semenjak itu," jelas Nurma.

Nurma memproses anyaman rotan yang dia beli dari perajin-perajin rotan di kampungnya. Lalu, dia membuat jadi produk tas siap jual. Dalam satu hari dia menghasilkan 20-30 tas.

"Jika yang pasang tali, yang membuat anyamannya jadi tas, saya sendiri yang buat. Tetapi jika anyaman rotannya itu perajinnya yang buat, saya tinggal mengambil-mengambil saja. Tetapi jika tas-nya saya yang membuat sendiri, saya berikan warna, serta motif-motifnya. Satu hari saya itu produksi 20-30 tas," katanya.

Nurma selanjutnya pasarkan produknya dengan merk Bale Rattan Bag, lewat media sosial seperti Instagram, Facebook, serta WhatsApp. Dia juga tidak menduga pembelinya lumayan banyak. Tas yang ia bikin dengan hasil tangannya di jual pada harga yang cukup murah, cuma Rp 65.000-220.000 per buah. Bahkan juga, Nurma sukses tembus pasar export. Dia mengekspor tas rotannya ke Malaysia serta Filipina.

Artikel Terkait : Pengertian Kelompok Sosial

"Tas saya harga Rp 65.000-220.000. Nah, sesudah saya jual online itu nyatanya banyak. Kami beberapa kali sudah export, ke Asia saja sich. Saya export ke Malaysia serta Filipina. Mereka (Malaysia serta Filipina), lihat produk saya dari media sosial. Mereka belinya grosir, umumnya mereka belinya 200 pieces ke atas, serta harga tentu jauh tambah murah jika belinya banyak," katanya.

Keberhasilan Bale Rattan Bag juga sudah dilirik oleh Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA). Nurma memperoleh undangan langsung dari idEA untuk pasarkan produknya di Pasar idEA 2019, 15 Agustus kemarin. Walau sebenarnya, Nurma tidak pernah benar-benar pasarkan produknya di basis e-commerce.

"Iya, saya ke Jakarta tempo hari. Saya dibawa langsung sama orang idEA-nya dari Instagram. Semenjak turut Pasar idEA banyak channel-channel, serta banyak penawaran contohnya dari Blibli.com," jelas Nurma.

Omzet yang dia raup per bulannya dengan jual tas rotan ini cukup mengundang selera. Per bulan, Nurma dapat cetak omzet Rp 9-10 juta. Jika ada keinginan export yang umumnya pesanannya lebih dari 200 buah tas, omzet Nurma dapat 2x lipat, yaitu seputar Rp 20 juta.

"Kurang lebih omzetnya Rp 9-10 juta per bulan. Omzet ya, yang belum bersihnya. Jika terhitung export dapat sampai Rp 20 juta. Dapat 2x lipat omzetnya memang jika ditambah export, sebab pesanannya semakin banyak kan," tutur ia.

Baca Juga : Kelompok Sosial Adalah

Dia menjelaskan, dengan penghasilan itu perekonomian keluarga jadi lebih baik. Bahkan juga, semenjak mengawali usaha ini perekonomian perajin rotan yang lain di dekat tempat tinggalnya juga turut lebih baik.

"Iya sejak jualan tas rotan melalui online sangat benar-benar menolong perekonomian keluarga. Tetapi tidak cuma perekonomian keluarga saya, tetapi tetangga-tetangga saya , benar-benar menolong perekonomian mereka," pungkas bekas guru SMP itu.

No comments:

Post a Comment