Friday, August 16, 2019

Semangat Tunanetra Ikuti Upacara HUT ke-74 RI di Solo

Masyarakat bantaran Sungai Deli, Medan, Sumatera Utara (Sumut), memperingati HUT ke-74 RI lewat cara unik. Mereka mengadakan upacara di sungai.

Upacara itu berjalan dengan khidmat, Sabtu (17/8/2019). Beberapa puluh peserta upacara yang biasanya masyarakat seputar, membuat barisan di sungai. Mereka memberikan hormat waktu proses penaikan Bendera Merah Putih.

"Upacara ini ditujukan jadi keinginan warga pada pemerintah untuk dapat memberi dukungan warga dalam jaga kelestarian sungai," kata komandan upacara, Ivan.

Baca Juga : Pengertian Menyimak

Selesai upacara, masyarakat melakukan beberapa pekerjaan, dari mulai fashion show sampai panjat pinang. Semua berjalan di seputar sungai yang ada di Kelurahan Kampung Aur, Kecamatan Medan Maimun.



Penerapan upacara di sungai ini teratur dikerjakan masyarakat dalam sepuluh tahun paling akhir. Ide penerapan upacaca ini hadir dari beberapa instansi, diantaranya Sanggar Perkasa Aur, Komune Sungai Deli, Laskar Bocah Sungai Deli (Labosude), serta Komune Perduli Anak Aur.

Tidak begitu susah buat Etik Winarsih (40) jadi petugas pengibar bendera dalam upacara HUT ke-74 RI di Rumah Service Sosial Disabilitas Netra Bhakti Candrasa, Solo. Walau tunanetra, ia dapat jalankan pekerjaannya secara baik.

Bendera terbalik ialah hal yang di kuatirkan Etik serta teman-teman. Tetapi kesempatan ini bendera bisa berkibar dengan tempat benar.

Artikel Terkait : Menyimak Adalah

Etik harus juga berjalan seputar 15 mtr. ke arah tiang bendera. Ia serta dua partnernya juga dapat berjalan sampai pas di muka tiang bendera.

Buat Etik, pekerjaan itu hanya mengulang-ulang rutinitas seputar 20 tahun kemarin. Waktu bersekolah di panti sosial itu, ia memang sering dipilih jadi pengibar bendera.

"Ini latihan hanya 2x. Tanggal 14 Agustus sama barusan pagi," kata wanita yang lulus tahun 2.000 dari panti itu, Sabtu (17/8/2019).

Diakuinya tidak mempunyai langkah spesial dalam jalankan pekerjaan. Ia cuma banyak memakai intuisinya untuk berjalan serta mengibarkan bendera.

"Ya hanya kurang lebih saja. Memang barusan jalannya ke tiang cukup miring sedikit, tetapi lumrah," tutur ia.

Definisi - Diakuinya semangat ikuti upacara ini. Tempat tinggalnya yang ada di Boyolali tidak menurunkan tujuannya ikuti upacara di panti sosial yang berada di Jalan Radjiman, Pajang, Kecamatan Laweyan, Solo itu.

"Barusan pagi pergi jam 07.00 WIB naik bis dari Boyolali. Diantarkan anak saya yang kebetulan libur 17 Agustus," katanya.

Petugas upacara yang lain, Topo Sukendro (53), melakukan pekerjaan membaca teks pembukaan UUD 45 secara baik. Tanpa ada membaca teks, masyarakat Petoran, Jebres, Solo itu masih lancar serta ingat.

"Dahulu waktu sekolah di sini kan saya ketua asrama. Saya galakkan supaya semua siswa ingat pembukaan UUD 45. Sebab pernah ingat, tempo hari tinggal mengulang-ulang," katanya.

Topo akui telah dikasih huruf braile jadi alat membantu dalam bekerja. Tetapi ia pilih memakai ingatannya.

"Jika gunakan braile kelak justru pengucapannya jadi lamban. Belum juga jika tangannya gatal, harus mencari, sampai baris mana barusan," katanya.

Menurut dia, pekerjaan upacara ini hari jadi bentuk kesayangan beberapa tunanetra pada NKRI. Difabel, katanya, mempunyai hak serta keharusan yang sama dalam kehidupan berbangsa serta bernegara.

"Ini jadi sinyal jika keadaan fisik tidak kurangi kesayangan kami pada tanah air," tutupnya.

Mengenai upacara itu dibarengi oleh hampir 100 orang tunanetra. Mereka terbagi dalam siswa aktif di Rumah Service Sosial Disabilitas Netra Bhakti Candrasa atau alumninya.

Upacara berjalan khidmat walau cuma simpel. Selesai pembubaran pasukan, semua peserta dengan spontan bertepuk tangan riang sebab upacara berjalan mulus.

No comments:

Post a Comment